| Dua KA lokalan Daop 8 bertemu di Stasiun Wonokromo, Sebelah kanan adalah KA Penataran dari Surabaya tujuan Blitar lewat Malang, di sebelah kiri adalah KA Rapih Doho dar Blitar tujuan Surabaya lewat Kertosono. Yang unik dari kedua KA ini adalah, mereka bertukar nama. KA Penataran dari Surabaya jika sudah sampai di Stasiun Blitar akan berganti nama menjadi KA Rapih Doho dan akan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya lagi melalui Stasiun Kertosono. Sedangkan KA Rapih Doho dari Surabaya jika sudah sampai Stasiun Blitar, akan berganti nama menjadi KA Penataran dan akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya lewat Malang. Jalur yang dilewati kedua KA ini biasa disebut "Jalur Kantong", yaitu Surabaya - Sidoarjo - Bangil - Malang - Blitar - Tulungagung - Kediri - Kertosono - Jombang - Mojokerto - Sepanjang - Surabaya. lokasi : Stasiun Wonokromo data exif : Canon | 55 mm | f/10 | 1/200s | ISO-100 foto oleh : dhannie setiawan |
Rabu, 10 Februari 2016
Railway Photo : Penataran dan Rapih Doho
Sabtu, 17 Oktober 2015
Tips dan Trik : Meluruskan Horison
Horison adalah garis cakrawala yang lurus dan sejajar dengan mata penikmat foto. Horison merupakan salah satu elemen penting dalam fotografi. Begitu pula dalam fotografi kereta api, horison berperan sangat penting dalam estetika dan komposisi foto.
Seringkali terjadi saat kita memotret menggunakan kamera apapun, kita merasa bahwa posisi kamera sudah lurus dengan horison tetapi saat kita melihat hasil fotonya, foto yang dihasilkan miring. Kenapa hal itu bisa terjadi? Karena saat memotret kita tidak memperhatikan garis horison dalam frame saat kita melihat melalui LCD kamera atau mengintip lewat viewfinder kamera kita. Apalagi kita memotret kereta api yang bergerak kencang, yang kita pikirkan biasanya bagaimana menempatkan kereta api tepat dalam frame seperti yang kita inginkan. Belum lagi jika kita terburu-buru, misalnya kereta api nya datang tiba-tiba dan kita belum mempersiapkan kamera. Maka garis horison adalah hal yang akan selalu terlewatkan.
Akan lebih mudah meluruskan horison saat kita memotret menggunakan kamera pocket, prosumer atau mirorless karena kamera-kamera tersebut dilengkapi dengan fitur grid lines yang membantu kita meluruskan garis horison saat memotret. Tetapi jika memotret kereta api menggunakan kamera DSLR maka meluruskan horison bukanlah hal yang mudah karena pada beberapa kamera DSLR tidak memiliki fitur grid lines . Lalu bagaimana cara kita meluruskan horison yang miring? Ada beberapa cara.
![]() |
| fitur grid lines pada kamera mirorless sumber foto |
Yang pertama menggunakan software pengolah gambar, seperti photoshop atau photoscape. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan setelah kita selesai memotret. Menggunakan photoscape adalah cara yang paling mudah.
Berikut cara meluruskan horison foto menggunakan photoscape.
Meluruskan horison foto menggunakan photoshop sedikit lebih sulit. Butuh 7-8 langkah. Berikut tutorialnya. Saya menggunakan Photoshop CS 5
![]() |
| pertama, buka foto yang akan kita luruskan horisonnya. lalu pilih ruler tool |
![]() |
| menggunakan ruler tool, tarik sebuah garis di sepanjang obyek yang kita jadikan panduan atau tolak ukur untuk meluruskan horison foto kita. pada contoh foto, panduan saya adalah rel. |
![]() |
| selanjutnya, klik menu Image - Image Rotation - Arbitrary |
![]() |
| akan muncul kotak dialog seperti pada gambar. tidak usah mengganti nilai angkanya, karena nilai angka tersebut didapat saat kita menarik garis menggunakan ruler tool sebelumnya. klik OK |
![]() |
| hasil foto yang telah diluruskan horison nya dan dipotong sesuai komposisi yang kita inginkan. sekarang tinggal edit sesuai keinginan lalu disimpan. |
Dalam meluruskan horison, tentu saja kita harus mempunyai patokan atau tolak ukur yang kita gunakan untuk menentukan lurus atau tidaknya horison foto kita. Pada umumnya, tolak ukur kita dalam menentukan lurus tidaknya horison adalah garis-garis imajiner di cakrawala, kita juga bisa menggunakan jembatan, bangunan, atau jalan. Tetapi di sini kita memotret kereta api. Memotret kereta api berbeda dengan memotret model atau landscape. Ada begitu banyak garis imajiner yang tercipta saat kita memotret kereta api. Garis-garis itu tercipta dari berbagai macam angle atau sudut pemotretan saat kita memotret kereta api. Akan lebih mudah saat kita memotret kereta api di perkotaan atau di jalur yang lurus karena ada banyak garis imajiner yang memudahkan kita menentukan lurus atau tidaknya horison foto kita.
| jembatan adalah salah satu tolak ukur paling mudah untuk melihat apakah foto kita miring atau lurus |
| bisakah Anda menentukan, foto ini miring atau lurus? |
Lalu bagaimana jika kita memotret kereta api dari atas bukit, di jalur yang berbelok-belok, di jalur yang menanjak dan menurun? Tentu ini cukup sulit jika kita tidak tahu triknya. Selain garis horisontal, kita juga bisa menggunakan garis vertikal dalam menentukan lurus atau tidaknya horison foto kita. Kok bisa? Bagaimana caranya?
Amatilah garis-garis imajiner dalam frame foto kita. Jika tidak ada garis imajiner horisontal maka lihatlah pohon-pohon, tiang listrik, tiang sinyal, tiang jembatan, pagar, manusia, atau apapun yang berdiri tegak lurus atau vertikal. Jika garis-garis imajiner yang berdiri vertikal tersebut terlihat miring, maka bisa dipastikan horison foto kita juga miring. Kenapa? Karena garis vertikal selalu tegak lurus terhadap garis horisontal, tidak pernah tegak miring :D
Berikut adalah cara lain meluruskan horison foto menggunakan Photoshop. Kali ini hanya butuh beberapa langkah mudah. Kali ini saya menggunakan garis vertikal sebagai panduan meluruskan horison foto saya.
![]() |
| buka foto yang akan kita luruskan horison nya, lalu klik crop tool |
![]() |
| foto yang sebelumnya miring menjadi lurus setelah melewati metode pelurusan seperti diuraikan di atas. selanjutnya tinggal kita edit sesuai keinginan dan disimpan. |
Bagaimana jika pohon atau tiangnya miring? Cari lagi garis yang lain, yang sekiranya bisa membantu kita meluruskan horison foto kita. Misalnya ada orang yang berdiri. Manusia berdiri selalu lurus, tidak pernah miring, kecuali Michael Jackson -jika Anda tahu yang saya maksudkan :D
Berikut adalah beberapa contoh foto yang menggunakan garis-garis imajiner vertikal sebagai panduan untuk membantu meluruskan horison foto. Menurut Anda, obyek apa saja yang bisa kita gunakan sebagai panduan pada foto-foto berikut?
| kereta api pada rel yang melengkung, bisakah Anda menemukan obyek yang digunakan untuk panduan meluruskan horison? |
| masih dengan rel yang melengkung, di sini terdapat banyak sekali obyek yang bisa dipakai membantu meluruskan horison foto kita. obyek mana sajakah? |
Dengan melihat garis-garis imajiner tersebut akan membantu kita meluruskan horison foto kita yang miring saat kita memotret. Ini masih masuk dalam cara pertama meluruskan horison melalui software pengolah gambar.
Cara kedua adalah saat kita memotret. Cara kedua ini sedikit lebih sulit tapi akan lebih mudah melakukannya jika kita sudah terbiasa melakukannya. Cara ini memerlukan persiapan kita. Sebelum obyek kereta api yang akan kita potret datang, amatilah sekeliling. Carilah sesuatu atau obyek yang bisa dijadikan panduan atau tolak ukur meluruskan horison foto kita sebelum kita mulai memotret. Kalau perlu lakukan pemotretan terlebih dahulu meskipun kereta api nya belum datang. Pengalaman ini diajarkan oleh guru saya, om Rendra. Sebelum kereta api nya datang, saya terbiasa mengamati keadaan sekitar. Memperkirakan komposisi foto dan mencari panduan meluruskan horison. Dan saya selalu memotret spot "kosongan" terlebih dahulu. Kosongan dalam artian belum ada kereta api nya. Hanya rel dan keadaan sekitar spot. Ini sangat membantu saya dalam menentukan komposisi foto dan posisi horison. Sehingga nanti saat foto sudah jadi, saya tidak terlalu banyak melakukan editing foto, terutama editing terkait komposisi dan posisi horison.
| memotret spot "kosongan" cara ini sangat membantu saya dalam menentukan komposisi foto sebelum kereta api nya datang |
Kita bisa menggunakan tolak ukur yang kita pakai pada cara pertama. Kita cari garis-garis imajiner horisontal dan vertikal yang bisa membantu kita menentukan lurus tidaknya horison foto kita nantinya. Garis cakrawala, jembatan, jalan, rel, gedung bertingkat, rumah, stasiun, pohon, tiang, pagar, manusia, dan lain sebagainya. Pandai-pandailah mengamati. Ini tidak memerlukan keahlian khusus, tapi sangat memerlukan pengalaman. Semua orang bisa melakukan ini. Pengalaman sangat menentukan.
Setelah kita menemukan tolak ukur posisi horison, langkah selanjutnya adalah eksekusi fotonya. Jika perlu, potretlah spot "kosongan" untuk membantu menentukan komposisi dan posisi horison. Jika sudah merasa cukup tanpa memotret spot kosongan, tidak menjadi masalah.
Seperti yang sudah tertulis di atas, menggunakan kamera pocket, prosumer, atau mirorless akan memudahkan kita meluruskan horison saat memotret karena kamera-kamera tersebut mempunyai fitur grid lines yang sangat membantu menentukan posisi horison dan komposisinya. Jika menggunakan kamera DSLR akan menjadi lebih sulit. Alat bantu untuk meluruskan horison hanyalah viewfinder yang berbentuk persegi, yang tentu saja dijamin sudah lurus tidak miring. Nah, di sinilah dituntut kejelian mata kita serta pengalaman saat memotret kereta api.
Obyek yang mempunyai garis imajiner yang sudah kita tentukan sebagai tolak ukur atau panduan meluruskan horison tadi, kita luruskan dengan garis persegi pada viewfinder kamera DSLR yang kita pakai. Dan ini cukup sulit jika kita belum berpengalaman. Mengapa? Karena kita sedang memotret kereta api, bukan memotret model atau landscape. Jika memotret model atau landscape, obyek nya diam jadi kita punya cukup banyak waktu serta dengan leluasa meluruskan horison kita. Tetapi obyek kita adalah kereta api yang sedang bergerak (kecuali kita memotret di stasiun). Apalagi di lintas, kereta api bergerak cepat sehingga kita hanya punya sedikit saja waktu untuk meluruskan horison. Hanya beberapa detik saja. Jika kita terlalu lama meluruskan horison nya, saya jamin komposisi nya akan berantakan. Atau malah terjadi obyek kereta api nya terpotong, bahkan kita tidak mendapatkan foto kereta api nya. Itulah sebabnya saya selalu memotret spot kosongan agar saya dapat memperkirakan komposisi dan posisi horison dalam frame foto saya, sehingga saat kereta api datang saya tidak panik dalam menentukan posisi dan komposisi.
Saya lebih memilih meluruskan horison saat saya memotret daripada harus meluruskan menggunakan software pengolah gambar setelah selesai memotret. Kenapa? Karena terkadang saat kita meluruskan horison foto menggunakan software pengolah gambar, komposisi foto kita akan rusak atau tidak sesuai keinginan kita. Seperti dicontohkan pada (gambar) setelah horison foto diluruskan maka ada bagian dalam frame foto kita yang terbuang.
Jika bagian yang terbuang tidak masuk dalam komposisi yang kita inginkan itu tidak menjadi masalah. Lantas bagaimana jika bagian yang terbuang itu masuk dalam komposisi yang kita inginkan, atau malah membuang sebagian obyek utama foto kita, seperti pada contoh gambar di bawah ini.
![]() |
| foto ini miring dan akan saya luruskan menggunakan Photoscape. tapi apa yang terjadi? setelah diluruskan, ekor KA Gayabaru Malam Selatan ini malah terpotong. menyebalkan :3 |
Memang memotret kereta api tidak seperti memotret obyek lain pada umumnya. Obyek yang kita potret bergerak (kecuali jika memotret di stasiun) sehingga kita perlu memikirkan dengan cepat komposisi foto kita. Memotret kereta api di berbagai macam spot juga akan menghasilkan berbagai macam sudut pengambilan foto yang tidak biasa, sehingga diperlukan juga kejelian dan pengalaman untuk menghasilkan foto kereta api dengan komposisi yang bagus, tidak asal-asalan. Intinya, pengalaman kita yang menjadi faktor utama untuk menentukan hasil foto kita. Gear atau kamera yang kita pakai adalah faktor kedua. Dan ada begitu banyak elemen dalam fotografi yang bisa kita masukkan ke dalam foto kereta api kita agar foto kereta api kita menjadi lebih baik.
Tips ini adalah berdasarkan pengalaman saya selama memotret kereta api. Saya hanyalah pemula, jika ada kekurangan atau kesalahan saya bersedia menerima kritik dan saran serta masukan. Silahkan langsung diposting di kolom komentar :D
Selamat mencoba.
Selamat berburu kereta api.
Tetap utamakan keselamatan sebagai kebutuhan.
Rabu, 07 Oktober 2015
Berbagi : Pengalaman menjadi seorang railfans (bagian kedua)
Stasiun Tarik, 01 Agustus 2010.
Saya dan rekan-rekan Komuter yang lain berencana untuk berkumpul di
Stasiun Tarik. Saya ingat berangkat dari Stasiun Surabaya Gubeng bersama
beberapa orang teman naik KA Arek Surokerto tujuan Mojokerto, berangkat dari
Gubeng tepat pukul 08.00 WIB. Rombongan kami sampai di Tarik kira-kira pukul
08.30 an.
Di sini saya bertemu dengan Syamsul Bachri, salah satu orang yang
berjasa dalam kehidupan saya sebagai penghobi kereta api. Di sini juga untuk
pertama kali dalam hidup, tangan saya memegang kamera DSLR (Digital Single Lens Reflect). Nikon
D5000 adalah kamera DSLR pertama yang saya pegang. Tentu saja saat itu saya
masih belum tahu apa kepanjangan dari DSLR. Kamera tersebut milik Syamsul. Dia
meminjamkannya kepada saya agar saya bisa belajar bagaimana cara
menggunakannya. Karena untuk pertama kali saya memegangnya, saya memegangnya
dengan sangat hati-hati, sampai tangan saya gemetaran. Perasaan senang karena
bisa memegang kamera bagus, sekaligus takut jika nanti kameranya rusak. Dan
parahnya, saya sok tahu hahaha :D Saya tidak mau bertanya bagaimana cara
menggunakannya.
| Nikon D5000, kamera DSLR pertama yang saya pegang tapi saya tidak tahu bagaimana menggunakannya :D |
Saya ingat, sebelum saya pegang, kamera dipegang oleh mas Bachrul Uluma.k.a Cui. Dia menggunakannya sebentar untuk memotret teman-teman. Dia
menggunakan mode live view untuk
memotret. Setelah dipakai, langsung diserahkan kepada saya tanpa mematikan mode
live view nya. Saya coba pakai, coba
untuk mengintip lewat viewfinder,
tapi kok gelap? Apa yang salah? Saya bingung bukan main, ini bagaimana caranya
supaya ga gelap? Padahal tutup lensa sudah saya lepas tapi kenapa masih gelap?
Tentu saja gelap karena live view nya
belum dimatikan hahaha :D Dan saya tidak tahu bagaimana cara mematikannya :v
Akhirnya saya matikan saja kameranya, tombol power saya switch ke off. Lalu
kamera saya nyalakan lagi, beres hahaha :D Dan satu lagi, karena baru pertama
kali menggunakannya, saya tidak mematikan kameranya. Jadi setelah saya pakai,
kamera tetap saya biarkan on,
sehingga menghabiskan daya baterai. Belum sehari, daya baterai sudah hampir habis
sehingga Syamsul tidak bisa menggunakannya untuk memotret hehehe :D Ngapunten
ya, Syam :D
“Wah, batere kok hampir habis gini. Tadi kamera ga sampeyan matikan,
Mas?”
“Wah iya, lupa hehehe :D”
“Woalah ya wes, mas. Gpp”
Di Stasiun Tarik juga untuk pertama kalinya saya berani menyeberang
jembatan kereta api yang panjang. Pengalaman pertama saya menyeberang jembatan
kereta api adalah di Stasiun Lawang, tapi hanya jembatan kecil hahaha :v Saat
itu saya sedang hunting sendirian di Stasiun Lawang. Saya berjalan menyusuri
rel dari stasiun ke arah selatan dan sampailah saya di sebuah jembatan kecil.
Awalnya saya takut. Kenapa? Karena semenjak saya mengalami kecelaksaan di tahun
2000, saya jadi agak phobia terhadap
ketinggian. Setiap kali saya berada di ketinggian, kepala saya langsung terasa
pusing, semacam vertigo. Ini dikarenakan saat kecelakaan, kepala saya terbentur cukup keras dan
mengakibatkan luka yang masih membekas sampai sekarang.
Sebelum menyeberang saya berpikir, kalau saya tidak menyeberang
jembatan ini maka saya harus jalan memutar lewat bawah, dan itu jaraknya cukup
jauh. Akhirnya saya memutuskan untuk menyeberang. Hanya sebuah jembatan kecil
sepanjang kira-kira 2-3 meter saja. Tapi saya masih deg-deg an. Saya
menyeberanginya dengan kaki gemetar, walaupun akhirnya saya berhasil
menyeberanginya. Alhamdulillah.
Kembali ke Tarik. Ada dua jembatan di sebelah barat Stasiun Tarik,
jembatan kecil dan besar. Jembatan kecil panjangnya kira-kira 3-4 meter,
sedangkan yang besar, ehm… saya ga tau berapa panjangnya. Pokoknya panjang lah
hahaha :D
| dua jembatan di sebelah barat Stasiun Tarik |
Saya dan rekan-rekan yang lain awalnya hanya menyeberang jembatan
kecil, untuk memotret kereta api yang akan melintas. Setelah satu KA melintas –kalau
tidak salah saat itu KA Rapih Doho, saya melihat ada seorang perempuan dan anak
kecil yang menyeberang jembatan besar. What…??!!
Perempuan dan anak kecil!!! Saya merasa terhina sekali hahaha :D Perempuan dan
anak kecil saja berani menyeberang, kenapa saya tidak??!!
| KA Rapih Doho melintas di atas jembatan Tarik |
Setelah mengumpulkan keberanian, saya mengajak satu orang teman yaitu
mas Anzhar untuk menemani menyeberang jembatan. Dan mas Anzhar bersedia untuk
ikut. Bismillahirohmanirrohim. Itulah
kata pertama yang saya ucapkan sebelum menyeberang. Pelan-pelan saya langkahkan
kaki menginjak balok-balok penyangga rel. Jembatan besar ini cukup parah
keadaan baloknya pada saat itu. Jarak antar balok tidak sama, ada yang lebar
dan ada yang sempit. Keadaan baloknya pun banyak yang tidak utuh. Ada yang
tinggal separuh, ada yang berlubang, ada pula yang terbakar. Asem tenan lah pokoknya. Untunglah saat
itu adalah jam sepi kereta melintas, jadi saya bisa menyeberang dengan tenang.
Perlahan tapi pasti, saya akhirnya sanggup menyeberang jembatan panjang
tersebut. Alhamdulillah. Meskipun
saat sampai di ujung jembatan, kaki saya masih gemetaran hahaha :v
Saat sampai di ujung jembatan, kami disambut kedatangan KA Arek
Surokerto dari Mojokerto menuju ke arah Surabaya Gubeng. Setelah memotret KA
Arek Surokerto, saya dan mas Anzhar mencari spot untuk memotret KA selanjutnya,
KA Gayabaru Malam Selatan. Kami menemukan spot yang cukup bagus dan teduh,
cocok untuk beristirahat dan ngadem
dari panasnya sinar matahari siang itu. Dan karena saat itu saya masih belum
mengerti bagaimana teknik memotret yang baik, maka foto yang saya hasilkan
asal-asalan. Asal keliatan sepurnya hahaha :v
| KA Arek Surokerto dari Mojokerto. Perbuatan saya mengambil foto dari atas sinyal masuk mohon jangan ditiru ya |
| KA Gayabaru Malam Selatan dari Surabaya Gubeng menuju Jakarta Kota (Gapeka 2011) hasil foto masih asal-asalan karena belum mengerti teknik foto yang baik :D |
Sepulang dari Stasiun Tarik, saya menceritakan pengalaman saya
memegang kamera DSLR dan menyeberang jembatan kepada perempuan yang saat itu
dekat di hati saya, pamer ini ceritanya hehehe :D Siapa nama perempuan itu?
Tidak perlu saya sebutkan, ga baik hehehe :D
Perempuan ini juga yang ikut menemani perjalanan saya menjadi seorang
penghobi kereta api. Beberapa kali dia sempat ikut hunting kereta api bersama
saya. Dia ikut saat saya hunting di Stasiun Surabaya Kota, ikut naik KA Komuter
dan berpanas-panasan di stasiun. Dia sempat marah saat saya tinggal untuk
memotret KA di tengah emplasmen stasiun, sedangkan dia duduk berteduh di peron.
Dan satu yang sangat sangat ingat, dia menemani saya hunting di Bekas Dipo Lokomotif Bangil. Hunting
yang juga menjadi salah satu penanda penting dalam kehidupan saya secara umum
maupun sebagai penghobi kereta api. Jika Anda berharap untuk tahu nama dan foto
perempuan tersebut, kubur saja harapan itu karena saya tidak akan
menampilkannya di sini :D
Dipo Lokomotif Bangil. Mungkin Anda sudah pernah mendengarnya. Bekas Dipo Lokomotif Bangil
adalah salah satu tempat yang terkenal angker di kalangan penghobi kereta api.
Sebelumnya, saya berkenalan dengan dua orang penghobi kereta api yang juga
punya pengaruh kuat dalam hidup saya, dan sekarang sudah saya anggap sebagai
keluarga saya sendiri. Rendra Swariyan Habib dan Budi Wibawa Mukti. Saya
berkenalan dengan mereka di facebook. Awalnya kedekatan kami hanya sekedar sesame
penghobi kereta api. Saling berbagi karya foto kereta api di facebook dan di
kaskus. Nah, di kaskus inilah awal mula kedekatan kami. Di thread motret kereta api yang dibuat oleh om Ipenk (Ifan Triyanto)
kami saling berbagi foto. Awalnya, mas Budi mengajuka rikues kepada saya untuk
memotret KA Argo Wilis, KA favoritnya. Saya menyanggupi dan memotret KA Argo
Wilis di Stasiun Surabaya Gubeng. Dan itu adalah foto KA Argo Wilis saya yang
pertama. Lalu om Rendra juga ikut mengajukan rikues, dan ini tidak main-main.
“Om, rikues foto Bekas Dipo Lokomotif Bangil sekalian gerbong NR yang ada di dalamnya donk”
“Gerbong NR itu apa?”
“Gerbong penolong yang dipakai untuk menolong KA yang mengalami PLH”
“Okeh, siaap. Segera dieksekusi”
Begitulah kira-kira percakapan kami di thread di kaskus. Saya menyanggupinya tanpa tahu sejarah tempat
tersebut dan sejarah gerbong NR yang akan saya potret. Pagi hari sebelum
berangkat, saya membuat status di facebook “Berangkat hunting Bekas Dipo Lokomotif Bangil dan
NR nya”. Setelah membuat status, saya langsung berangkat ke Stasiun Sidoarjo, berdua,
dengan perempuan kecil itu :)
Kami naik KA Penataran jurusan Malang. KA berangkat pukul 08.00 dan
sampai di Bangil kira-kira pukul 08.30 an. Setelah meminta ijin PPKA setempat,
saya langsung menuju bangunan dipo. Di dipo saya juga menyempatkan diri untuk
ijin petugas yang sedang berada di sana. Selanjutnya kami berdua berfoto-foto
di sekitar bangunan dipo. Saat menuju bangunan dipo yang sudah tampak lama dan
terbengkalai, sebenarnya saya sempat ragu. Ada perasaan tidak enak dan
mengganjal saat melihat bangunan tersebut. Tiba di pintu bangunan, saya tidak
langsung masuk. Saya sempat terdiam sebentar, mengamati dan merasakan aura di
dalam bangunan. Dingin. Dia yang menemani saya pun sempat mengajak untuk
kembali, tidak masuk dipo. Tapi saya menolak. Saya ingin menepati janji kepada om
Rendra. Bismillahirohmanirrohim. Saya
pun melangkah masuk.
| suasana Stasiun Bangil saat itu, foto tahun 2010 |
| ruang PPKA Stasiun Bangil tahun 2010 |
Di dalam bangunan terasa dingin, sunyi, senyap, dan sepi. Saya melihat
beberapa gerbong semacam PPCW (gerbong datar) dengan kode PPWRU. Saya melihat
sekeliling, ada ruangan kerja, beberapa barang yang berserakan dan sebuah kran
air yang airnya menetes pelan. Wah, suasana nya lumayan horror dan menyeramkan. Padahal saat itu siang hari. Saya lihat di
ujung utara, sebuah gerbong tua yang diparkir di bagian paling belakang
bangunan. Mungkin itu NR nya, ucap saya dalam hati.
Perlahan saya mendekat, aura mistis dan dingin bertambah kuat. Singup kalau orang Jawa bilang. Entah
kenapa kaki saya terus saja melangkah maju sampai akhirnya tangan saya
menyentuh gerbong tua itu. Memang aura nya terasa lain. Seperti ada yang sedang
mengawasi saya dari jauh. Tapi tidak saya hiraukan. Saya masih belum tahu
bagaimana cerita sejarah gerbong tua itu, dan bagaiman cerita para penghobi
kereta api sebelum saya yang pernah memotret gerbong tua tersebut, jadi saya
tetap santai dan tenang. Tidak berpikiran negatif dan macam-macam. Saya
memotret gerbong NR itu dari berbagai sudut. Depan, samping, bahkan dari bawah.
Dengan berani –atau lebih tepatnya nekat saya turun ke kolong gerbong untuk
memotret dari bawah. Padahal….
Selesai memotret dan mengamati, saya kembali keluar. Di luar, sang
perempuan sudah menunggu dengan resah. Saya juga bodoh, kenapa saya tinggalkan
dia sendirian di luar? Kenapa tidak saya ajak masuk saja sekalian? Ah sudahlah,
yang penting dia selamat dalam keadaan baik. Dia menyambut saya dengan muka
gelisah.
“Aku kuatir,” katanya.
“Tadi pas sudah masuk, aku manggil-manggil dari luar. Kedengaran ga?”
“Ga, aku ga dengar apa-apa dari dalam,” sahutku.
“Ah sudahlah, yang penting ga ada apa-apa. Ayo kita pulang.”
Kami berencana pulang naik KA Penataran jam 12 dari Malang. Karena jam
kedatangan kereta masih lama, kami menyempatkan diri untuk berfoto di sekitar
stasiun dan membeli nasi bungkus untuk makan siang. Alhamdulillah, hunting hari itu berjalan lancar. Tapi saya tidak
tahu, status di facebook saya sudah penuh dengan cerita sejarah Bekas Dipo Lokomotif Bangil,
gerbong NR, rekan-rekan penghobi yang sebelumnya pernah memotret Bekas Dipo Lokomotif Bangil dan gerbong NR nya.
Saya tahu setelah saya buka facebook saya di malam harinya. Astaga!!!
Ternyata gerbong NR di Bekas Dipo Lokomotif Bangil sangat angker!!! Buset bener dah!!! Perasaan
takut, kuatir, cemas, sekaligus bangga bercampur menjadi satu. Gerbong NR
adalah salah satu gerbong yang dinyatakan angker oleh para penghobi kereta api
sebelum saya. Sejarahnya cukup kelam dan seram. Menurut cerita, gerbong itu
pernah dipakai untuk mengangkut mayat para korban pembantaian PKI di lintas
Pasuruan – Bangil. Pintu gerbong NR yang berupa pintu slide, pernah dipakai untuk memenggal kepala korban kekejaman PKI. Ceritanya,
korban direbahkan di lantai gerbong dengan bagian badan di dalam gerbong leher
berada tepat di pintu. Lalu pintu ditarik dengan kencang sehingga bisa
memenggal kepala korban. Haduuuuhhh….!!!
Bukan itu saja, menurut cerita para penghobi yang sudah pernah
memotret sebelum saya. Mereka yang pernah memotret gerbong NR tersebut akan
mengalami berbagai macam keganjilan. Mulai dari foto-foto yang ada di memory card menghilang secara misterius,
lalu memory card rusak, terkena virus
dan tidak bisa digunakan lagi. Tidak hanya memory
card nya yang rusak, komputer dan laptop yang pernah disinggahi memory card yang berisi foto-foto
gerbong NR itu pun juga ikutan rusak. Tak ketinggalan kamera yang dipakai. Salah
seorang teman becerita, komputer temannya yang dipakai untuk menyimpan
foto-foto gerbong NR tersebut rusak, sampai harus diperbaiki hingga 3 kali,
tapi tetap saja rusak. Lalu kameranya juga. Kameranya sempat diperbaiki dan
bisa dipakai sebentar, tapi tak lama. Sebulan setelah diperbaiki, keponakannya
memukul kameranya dengan palu. Hancurlah kameranya :3
Tidak berhenti sampai di situ, orang yang memotret pun juga ikut
ketularan. Masih menurut teman saya, sesaat setelah dia dan teman-temannya
memotret, ada satu penghuni gerbong yang ikut. Penghuni tersebut nangkring di
pundak teman nya selama beberapa hari, sampai orang tersebut sakit. Penghuni
gerbong NR itu mau pergi setelah salah seorang teman berdialog secara baik-baik
dengan nya. Dan sampai saat itu, hanya ada dua orang di Indonesia yang masih
menyimpan foto-foto gerbong NR di Bekas Dipo Lokomotif Bangil. Dua orang tersebut termasuk saya. Kerusakan yang dialami kamera, komputer dan perangkat lainnya tidak
langsung terjadi setelah selesai mengambil foto. Tapi terjadi seminggu setelah
selesai mengambil foto. Asem tenan!!!
Cerita yang cukup membuat takut dan bulu kuduk berdiri. Saya sempat
kuatir, bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan handphone dan komputer saya, terlebih
saya mengkhawatirkan keselamatan perempuan yang saya ajak untuk hunting di
sana. Saya khawatir terjadi apa-apa kepada dirinya, karena saat itu saya
tinggalkan dia di luar, sendirian. Tapi saya tetap berpikiran positif. Niat
saya baik, saya tidak punya niat macam-macam saat datang ke sana dan memotret
gerbong NR. Alhamdulillah seminggu
setelah saya memotret, tidak ada hal negatif yang terjadi pada saya, perangkat
saya, dan perempuan yang saya cintai. Semua baik-baik saja, dan sampai sekarang saya masih menyimpan foto-foto Bekas Dipo Lokomotif Bangil beserta gerbong NR nya dengan aman.
Saya merasa bangga, saya adalah salah satu dari sedikit orang yang
saat itu bisa memotret dan memiliki foto-foto Bekas Dipo Lokomotif Bangil dan NR nya dengan
aman, tanpa ada masalah. Karena setelah itu, ada dua orang teman yang memotret
di sana mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Handphone yang dipakai
memotret rusak dan satu teman lainnya kamera DSLR serta komputernya rusak berat
sampai tidak bisa diperbaiki. Seram :3
Penasaran dengan foto-foto Bekas Dipo Lokomotif Bangil dan gerbong NR nya? Silahkan,
saya sertakan foto-fotonya lengkap di bawah ini. Jika ingin klik kanan dan save as, saya ijinkan tetapi dengan
resiko Anda sendiri ya :D
Beginilah suasana di sekitar Bekas Dipo Lokomotif Bangil pada tahun 2010
| Bekas Dipo Lokomotif Bangil |
| Bekas Dipo Lokomotif Bangil |
| kereta tua yang teronggok di depan dipo. entah kereta ini dulunya dipakai untuk apa |
| Bekas Griya Karya Stasiun Bangil |
| Bekas Griya Karya dan Turn Table Dipo Lokomotif Bangil |
| Lokomotif D301 61 sedang parkir di depan Bekas Dipo Lokomotif Bangil |
| narsis dulu yak hehehe :D |
| mungkin ini bangunan kantor Dipo, saya tidak tahu tepatnya untuk apa |
| gerbong PPWRU tua diparkir dan ditinggalkan di depan pintu masuk dipo |
| tampak kode gerbong PPWRU 12 .... |
| pintu masuk depan Bekas Dipo Lokomotif Bangil sudah berasa mistisnya? |
Dan inilah suasana di dalam Bekas Dipo Lokomotif Bangil, lengkap dengan gerbong NR nya. Kalau pengen save as, resiko ditanggung sendiri ya :D
| gerbong-gerbong PPWRU tua |
| bekas loss dipo |
| bekas kantor dipo |
| kran air yang airnya tak berhenti menetes, entah mulai kapan sampai kapan. suara airnya yang menetes menambah kesan seram di dalam bangunan :3 |
| penampakan gerbong NR |
| saya naik ke atas gerbong PPWRU dan mulai mendekat |
| gerbong NR 9 berasa ada yang mengawasi? |
| entah saya nekat, bodoh, atau berani saat mengambil foto dari bawah seperti ini. padahal ini di bawah adalah .... |
| pintu yang katanya pernah dipakai untuk memenggal kepala manusia :3 |
Pengalaman yang lumayan pahit tapi menyenangkan hehehe :D Di balik itu
semua, Dipo Bangil dan gerbong NR nya telah membuat saya mempunyai dua keluarga
baru. Om Rendra dan om Budi. Terima kasih saya untuk kalian berdua :)
Semua foto diambil tahun 2010 menggunakan handphone kamera SonyEriscsson K790i. Kondisi handphone saat ini sudah almarhum :'(
Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan sebelum kami berdua pulang kembali ke Sidoarjo
| gerbong ketel diparkir di emplasmen Stasiun bangil |
| gerbong kricak yang sudah terisi batu balas, siap untuk dirangsir dan berdinas |
| KA Mutiara Timur Pagi dari Surabaya Gubeng tujuan Banyuwangi, masuk jalur 1 Stasiun Bangil |
| Lokomotif D301 61 siap merangsir rangkaian gerbong kricak |
| sepur yang saya anggap aneh saat itu karena baru pertama saya melihatnya, dan sampai sekarang saya tidak tahu sepur apa ini namanya, dan gunanya untuk apa :v |
| KA Penataran dari Malang masuk Stasiun Bangil, siap membawa kami kembali pulang ke Sidoarjo |
bersambung ....
Langganan:
Postingan (Atom)














